Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Siapa Sangka Dibalik Kebisuan Terdapat Jeritan Pahit

Cerita Sedih Broken Home

Oleh: Hendra P. S. M. Zalukhu


Gadis malang berambut panjang, termenung mengisahkan dunia tanpa cinta. Dirinya ibarat sedang berada dalam ruangan tanpa cahaya. Akankah gelapnya berubah menjadi terang?

Amerta, seorang gadis yang tuna wicara saat ini kelas IX SMP dan berusia lima belas tahun. Dia punya keahlian menulis. Sejak kecil, dia diajarkan ibunya menggunakan bahasa isyarat. Namun, sangat disayangkan di usia sepuluh tahun, ibunya meninggal akibat kecelakaan saat menyelamatkan putri kesayangannya yang hampir tertambrak mobil. Dan saat ini, dia bersama ayahnya, Pak Riyanto.


Sejak kepergian sang ibu, penderitaan Amerta lengkap sudah. Dia hanya bisa merintih dan menangis dalam diam. Mengapa sang ayah tega berlaku begitu? Bukannya sayang, ini malah membenci.


***


Setelah makan malam bersama, Amerta mengajak ayahnya dengan menggunakan bahasa isyaratnya ke ruang keluarga, tepat di depan gambar yang terpajang di dinding sana. Terlihat gambar dirinya bersama ayah dan ibunya dengan wajah bahagia. Entah apa maksud Amerta mengajak ayahnya. Matanya masih terus menatap gambar itu.


Amerta meraih buku dan pulpen yang ada di kantonganya. Dan mulai menuliskan sesuatu. Pak Riyanto melihat gambar itu dan mulai menyeringai dan menatap tajam gambar cilik yang ada di sampingnya.


"Mer, masih belum puas kah kau menjadikan korban orang yang kucinta!? Kau buat nyawanya melayang dan pergi selamanya meninggalkanku.  Sampai kapan pun, aku takkan pernah memaafkanmu," hardik Pak Riyanto 


Amerta diam. Butiran-butiran air matanya mulai jatuh dan memutuskan berhenti untuk menulis. 


"Kehadiranmu di dalam keluargaku, hanya membawa malapetaka bagiku. Dasar anak pembawa sial! Jika saja ibumu dulu mengizinkanku untuk menggugurkanmu, aku tak mungkin kehilangan dia saat ini.  Kau sangat keterlaluan Merta!" Tiba-tiba vas bunga yang ada di atas meja jatuh lalu pecah. "Dan kini kau mengajakku melihat foto yang ada anak haram ini!? Aku tak sudi! Aku menyesal telah membesarkanmu." Pak Riyanto berlalu dengan wajah memerah.


Amerta masih terpaku di sana. Kuatkah hatinya menerima kata kasar seperti itu? Pantaskah kata itu padanya?


Amerta mendekati gambar itu. Dia menangis dengan sendu. Dan melanjutkan mencoret-coret kertas putih yang ada di tangannya. 


Bu, aku sangat merindukan ibu. 


Amerta mengusap air matanya yang semakin mengalir deras. 


Di saat aku dimarahin, dihina, disalahkan, diejek, ditinggalin, hanya potongan gambar inilah yang menjadi pelindungku,teman setiaku, semangatku untuk bertahan menjalani kehidupan ini. Rindu kah ibu dengan Merta? 


Kata-kata seperti itulah yang tertulis dalam kertas itu. Lalu Amerta melipatnya dan menyimpannya di kotak tepat di sebelah gambar itu. 


***


Pagi-pagi sekali, Pak Riyanto berangkat kerja seperti biasanya tanpa berpamit pada anaknya. Amerta sudah tak heran lagi ditinggal oleh ayahnya tanpa pamit. Kesunyian sudah menjadi teman setianya sejak ibunya meninggal, lima tahun lamanya. Tak lagi ke kebun binatang, jalan-jalan ke pantai, jalan-jalan ke rumah nenek. Namun, kini semua tinggal kenangan masa lalu bersama ibu. 


Amerta menikmati sarapan yang ada di meja makan yang disiapkan oleh Bik Elta, pembantu mereka. Setelah selesai sarapan, Amerta mulai menuliskan lagi kertas-kertas putih yang selalu dibawanya ke mana saja.


Terimakasih sudah mau merawat saya selama ini, Bik. Sekarang aku mau ke rumah nenek di kampung dan menetap di sana. 


"Iyah, sama-sama, Non. Tapi mengapa Non pergi. Apakah tuan sudah tau semua ini? Aku takut nanti dia memarahi saya karna membiarkan Nona pergi."


Amerta kembali menuliskan kata-kata yang menjadi jawabannya untuk Bik Elta.


Tenang saja Bik, ayah tak akan memarahin Bibi. Justru sebaliknya. Ayah malah menginginkan aku enyah dari pandangannya.


"Sungguh malang nasibmu, Non. Ibumu meninggal, ayahmu juga tak menganggapmu ada. Bibi sayang sama, Non." 


Merta juga sayang sama Bibi.


Amerta memeluk Bik Elta erat. Deraian air mata pun hadir menemani mereka.


Bila nanti ayahku pulang, aku ada titip surat padanya, ada di atas meja ruangannya. Sampaikan juga kalo Merta sayang pada ayah. 


"Iya, Non. Bibi pasti menyampaikannya." Kini giliran Bibi Elta memeluk Amerta. "Terus, kalo mau pergi ke rumah nenek, kawanmu siapa?" tanya Bik Elta.


Aku nggak perlu ditemani, aku kan masih ingat alamat rumah nenek. Cukup foto ini yang menjadi kawan setiaku di jalan.


Amerta memperlihatkan gambar keluarganya pada Bik Elta.


"Baiklah, Non. Hati-hati di jalan, ya," ucap Bik Elta sembari mengecup kening anak majikannya. 


Lalu senyum manis tergambar di bibir tipis itu sebagai balasan dari kata Bik Elta dan berlalu pergi.


Rasanya bagai tertusuk duri, dan tentunya sakit. Siapa yang tak terluka dengan kata pahit seperti itu? Terluka tak berdarah!


***


Tiba-tiba, sosok wanita berpakaian serba putih muncul dengan penuh amarah.


"Mas, mengapa mas membuatnya terluka? Mas jahat! Apa mas lupa, janji yang mas ucap dulu, bahwa mas akan menyayangi anakku seperti mas menyayangiku. Mana janji itu. Aku tak terima anakku dilukai seperti ini. Selama kita bersama, aku sudah sepenuhnya mencintai mas juga anakku. Aku sudah memenuhi janjiku. Mas, seorang pembohonggg!!!" Pak Riyanto langsung terbangun dari mimpinya dan tersadar akan kata yang terikat janji pada mendiang isterinya. Dia segera menuju kamar Amerta untuk minta maaf. Tidak ada. Dia mencari ke dapur, masih tidak menemukannya. 


"Elta! Eltaa!!!" teriak Pak Riyanto memanggil pembantunya.


"Iya, Tuan. Ada apa?" tanya Bik Elta.


"Amerta ke mana!?"


"Maafkan aku, Tuan. Non Amerta sudah pergi tadi pagi. Katanya dia ke rumah neneknya di kampung." 


"Sampai berapa hari dia di sana?" tanya Pak Riyanto.


"Dia menetap di sana, Tuan. Tadi dia ada titip surat buat, Tuan." 


"Surat? Di mana?"


"Ada di atas meja ruanganmu, Tuan. Dia juga titip kata, bahwa dia sayang pada Tuan." 


Pak Riyanto berlalu dan bergegas ke ruangannya. Tampak ada sepucuk surat yang terlipat rapi yang tak lain milik Amerta. Dia membukanya pelan-pelan. 


Dear, Ayah.

Senja berlalu tanpa pamit, gelap malam menghiasi hari. Batin pasrah meratapi nasib, kesepian hati selalu menghampiri.

Ayah, Merta maklum kata-kata ayah. Merta anggap itu wajar. Ketahui satu hal, Yah. Merta tak pernah ada niat mencelakai orang yang ayah sayang. Merta tau ayah begitu sangat mencintai ibu, Merta tau ayah sangat terluka ditinggal ibu, merta juga mengerti rasa kesepian ayah tanpa ibu. Merta juga, Ayah. Merta banyak kehilangan setelah kepergian ibu. Kebersamaan dan keceriaan kita sudah tiada lagi bagai telah ditelan bumi. Kini kesepian yang berkuasa menguasai diri. 


Yah, seandainya pun Tuhan mengabulkan, Merta sudah siap menggantikan jiwa yang dipanggil-Nya, asal ibu bisa kembali bersama ayah. Mengapa? Karena Merta sangat mencintai kalian. 


Setelah kepergian ibu, merta bagai berada dalam kamar yang gelap. Sunyi, sepi tak berdaya. Aku sangat merindukan terang yang pernah hadir dulu. Namun mustahil bagiku bila itu bisa terulang lagi. Yang pasti aku sayang ayah. Aku juga sayang ibu walau sudah tiada. Sampai kapan pun aku takkan pernah membenci ayah.


Ayah boleh membenciku. Ayah boleh mengusirku. Tapi Merta tidak mau jadi anak orang lain. Ayah Merta cuma kamu ayah.  Untuk itulah, Merta mau ke rumah nenek dan tinggal di sana, semua itu karna Merta sayang ayah.


Dari : anakmu yang kesepian.


Setelah selesai membaca surat itu, Pak Riyanto langsung bergegas ke kampung menyusul Amerta dan mengendarai mobilnya. Dia baru sadar, bahwa bukan hanya dirinya yang kesepian. 


"Selama ini aku telah egois. Tak pernah pernah memikirkan perasaan Merta. Walau dia bukan anak kandungku. Aku 'kan sudah ikat janji pada istriku. Aku bukan ayah yang baik!" sesal Pak Riyanto.


Lima jam dalam perjalanan, Pak Riyanto tak mengenal lelahnya dalam mengendarai mobilnya. Dan akhirnya, sampai dengan selamat, lalu menghampiri anaknya yang sedang tertidur lelap di kamar. 


"Kamu jangan bangunkan dia. Biarkan dia tidur nyenyak. Kasihan dia," cegah wanita tua yang sedang menjaga Amerta.

"Dia sepertinya sedang terpukul. Tapi dia sangat terkunci. Tak pernah diberitahu ibu masalahnya itu seperti apa. Ibu sangat sedih melihat keadaannya seperti ini. Dia tak seperti lima tahun lalu saat terakhir dia ke sini." Butiran air mata jatuh pada pipi wanita tua itu yang tak lain dari ibunya Pak Riyanto. 


"Semua ini karna aku, Bu. Aku yang buat dia menderita seperti ini. Kasihku selama ini padanya telah hilang padanya. Aku pikir mengucilnya seperti itu bisa membuat hatiku pulih dari kesepian. Kenyataannya tidak seperti itu."


"Baguslah karna kamu sudah tau, Nak. Kebahagiaan itu hadir pada kebersamaan bukan pada kesendirian."


"Iya, Bu. Itulah sebabnya aku datang ke sini untuk menjemputnya dan memulai keceriaan lagi denganya."


"Ini 'kan sudah larut malam, Nak. Biarkan dia tinggal di sini malam ini. Apalagi dia masih tidur. Kasihan dia."


"Iya, Bu. Besok kami pulang. Dia adalah titipan istriku. Aku tak mau berjanji pada orang lain, melainkan berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan menjaga dan membuatnya bahagia seumur hidupku," ucap Pak Riyanto mengikat janji.


Bukankah menyesal itu tak ada gunanya? Tidak. Penyesalan ini masih belum terlambat—waktu masih ada,—menyesali kesalahan dan memperbaharuinya kembali, itulah yang menjadi pengalaman hidup. 


Nias, 14 September 2019.


Cerita ini sudah pernah dibukukan pada sebuah antologi dengan judul 'Mengikat Janji Terakhir' pada tahun 2019.


Posting Komentar untuk "Siapa Sangka Dibalik Kebisuan Terdapat Jeritan Pahit "