Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Undangan Tanpa Nama

Cerita Gokil Abis Genre Romance

By: Hendra PSM Zalukhu



Andai pertemuan tak pernah terjadi maka luka yang melara takkan pernah hadir. Aku tahu cinta tak selalu untuk dimiliki, setidaknya ada tempat untuk berbagi. Adakah yang mau peduli?

Jika boleh memilih, esok malam tak ingin kulalui, cukup malam ini! Bagaimana mungkin hati bisa menahan rasa sakit yang tak bersyarat ini? Hati itu disayang bukan malah disakiti! 

Perlahan pipi sembab oleh cairan bening yang meluap dari muaranya. Sungguh aku tak percaya. Pengakuan cinta sudah melangkah lima tahun lamanya, lalu dengan mudahnya dia menyodorkan selembar surat undangan pernikahan. Mungkinkah kamu sedang tersesat sehingga menuju ke lain hati?

Angin hanya menyaksikan kebisuanku saat menerima surat undangan itu, lalu menyibakkan rambutku yang tergerai kasar, seakan mau memeluk dan menguatkanku. Lima tahun perjalanan cinta yang terlewati, hanya dengan selembar kertas berisikan undangan perasaan menjadi hancur melayang.

"Nad, kuharap besok kamu datang, ya." Daniel menatap mataku penuh harap. Hatiku menjerit-jerit kesakitan pada tatapan yang seakan tiada bersalah. Dasar manusia tak punya perasaan! 

"Iyah." Aku menghela napas sembari mengusap air mata yang dilewati beberapa tetes. "Aku pasti datang menghadiri pesta kalian, kok." Aku berusaha bersikap tenang dan kuat di hadapannya, meskipun hatiku terasa sangat perih, sakit bagai luka yang tak berdarah.

"Maafkan aku. Sebenarnya aku tak bermaksud–"

"Stop! Aku tak mau dengar apa-apa lagi darimu. Hubungan kita sudah berakhir malam ini. Jadi, silahkan kamu pergi dari sini!" tukasku sembari meninggalkannya. Bendungan kokoh sudah tak bisa tertahan lagi, berderai tanpa meminta izin dan aku tak kuasa untuk menahannya lagi.

"Nadin." Daniel menggenggam tanganku dengan kuat. "Dengarkan dulu penjelasanku, Nad."

"Sudah tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Dan. Lepaskan tanganku!" Aku berusaha melepaskan genggamannya, tetapi usahaku nihil. Tangannya lebih kuat bahkan menarikku dalam pelukkannya erat. 

"Aku terpaksa menikahinya karena ...." Aku merasakan Daniel juga sedang bersedih. Pelukkannya semakin erat, tak pernah kurasakan sebelumnya. Sepertinya tak menginginkan pernikahan itu terjadi. Mungkinkah itu perjodohan?

"Ada apa, Dan? Siapa yang memaksamu?" tanyaku penasaran. Bagiku ini sungguh sangat aneh. Tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba datang mengantar undangan. Setahuku, hubungan kami sudah diketahui dan direstui oleh kedua orang tua kami. 

Daniel tak menjawab malah semakin memelukku. "Nad, kumohon ... jangan pernah tinggalin aku."

"Iyah, aku tak pernah meninggalkan kamu."

"Sekalipun aku sudah menikah?" tanya Daniel perlahan melepaskan pelukannya. 

Hati kembali tercabik-cabik dengan ucapan terakhir Daniel. Aku harus bagaimana? Di satu sisi Daniel sepertinya dipaksa dan di sisi lain tak mau jadi yang kedua. Luka berbalut luka. Tidakkah kau melihat bahwa aku sangat terluka? Mengapa kau tega baluri luka dengan garam? Sungguh perih!

"Aku tahu ini sangat berat bagimu, aku juga begitu. Tapi kamu tahu sendiri 'kan hasil pemeriksaan dokter minggu lalu, bahwa usiaku tidak bertahan lama lagi." Daniel menangkup kedua pipiku yang kian sembab.

"Jadi, kamu mau menghabiskan usiamu bersamanya ketimbang aku? Tega, ya, kamu." Aku mulai memberontak di bidang dadanya. "Aku mencintaimu Daniel. Jika hanya itu alasanmu menikahinya, segera batalkan. Karena hanya bersamaku kau menghabiskan usiamu."

"Ini sudah terlanjur, Nad. Kamu tahu siapa yang bersanding denganku besok? Adalah Merry, sahabatmu. Dialah yang memberiku perawatan hingga saat ini."

Merry, sahabatku sejak kecil. Saat ini dia sudah digelar sebagai dokter terbaik. Ternyata sahabatku sendiri menikungku dari belakang? Oh, ya, dia 'kan anak introver. Ini gila! Sungguh, ini gila banget! 

"Berarti pernikahan itu sudah tidak bisa dibatalkan lagi?" tanyaku pasrah sembari menatapnya.

"Iyah."

Satu kata dari jawaban Daniel cukup membuatku lemah dan pasrah.

"Baiklah. Apapun keputusan yang kamu ambil, aku percaya itu adalah yang terbaik." Aku berusaha terlihat kuat di depannya. "Jangan khawatir, besok pasti aku akan datang." Bibirku mencoba menyabit tetapi terasa masih kaku, setidaknya bisa meyakinkan Daniel bahwa aku baik-baik saja.

"Terima kasih, Nad." Daniel menghela napas lega. "Kuharap kamu datang tepat waktu karena acaranya akan dimulai pukul delapan malam di Taman Sari."

"Iyah." 

Daniel berlalu mengendarai motornya. Ingin kutanya lagi mengapa acaranya diadakan di malam hari? Gila! Apa mungkin karena mendesak? 

Aku terus berdiri menatap langit. Mengapa langit begitu gelap? Ke manakah bintang-bintang penghias malam yang kulihat semalam? Haruskah kumarah pada malam? Atau pada bintang yang tak kunjung hadir?

***

Jalan telah dihiasi bunga serta lilin yang sudah tersusun rapi. Dari kejauhan terlihat  lampu led berkedap-kedip telah terlilit pada hiasan Bunga yang melengkung indah. Tapi, anehnya aku tak melihat Daniel sama Merry di tempat itu. Apa mungkin sedang sibuk menyapa para tamu lainnya?

Suasana pesta sangat ramai namun tidak dengan suasana hatiku. Cinta yang kubina lima tahun berakhir sudah malam ini. Betapa bodohnya aku menghadiri serta menyaksikan pesta ini berlangsung. 

Di tengah menikmati minuman berwarna kuning yang telah disediakan, lampu seketika padam. Mungkinkah ini pertanda sial? Namun, tiba-tiba suara pentasan berhasil menarik ulur hati para undangan senang dengan bertepuk tangan. Sungguh aku tak menghiraukannya.

Pentasan terus bersorak-ria di langit gelap. Tiba-tiba sebuah sentuhan berhasil meraih tubuhku dan membawaku ke tempat yang sungguh aku tidak tahu. 

"Kamu siapa?!" Aku memberontak dalam rangkulan sosok lelaki berpakaian serba putih itu dan memakai penutup wajah. "Cepat. Lepaskan aku!" Pemberontakanku pada bagian dada lelaki itu takkan berhasil melepaskanku.

"Tenang. Aku tidak akan menyakitimu."

Bicaranya sangat sedikit, namun aku mampu mengenali suara lelaki itu lalu membiarkannya membawaku dan ternyata dia membawaku di antara bunga-bunga hiasan dan seketika lampu menyala. Aku sangat terkejut. Ini apa-apan, sih!

"Surprise ... sebenarnya acara malam ini adalah untuk kita berdua, Nad. Yaitu acara lamaranku ke kamu." Daniel tersenyum bahagia. 

Cairan bening mulai meleleh di sudut mataku. "Lalu, surat undangan yang kamu berikan padaku semalam itu apa?"  

"Itu surat undangan tanpa nama, Nadin. Hehehe." 

"Kamu kira ini lucu, hah?!" Aku menyeka air mataku dengan kasar. Kesal bercampur malu karena telah menyimpulkan sesuatu yang tidak benar terjadi. Bodoh. "Apa tidak ada cara lain yang romantis gitu, selain cara begini? Gara-gara kamu Aku sudah salah sangka terhadap Merry."

"Selow dong, Nad. Rencana ini juga berjalan karena Merry."

"Jadi, dia juga tahu?!" 

"Iyah." Daniel mulai merunduk di depan Nadin sembari membuka kotak merah yang berbentuk hati. "Nad, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?" Daniel menatap serta mengulurkan kotak merah berisikan sepasang cincin emas padaku. Oh, so sweet banget. Pipi dan telingaku tiba-tiba memerah.

"Terima ... terima ... terima." Begitulah suara para undangan di situ seolah memberi kode. 

"Kalo aku, sih, mau menjadi pendamping hidupmu, tapi ...." 

"Tapi apa, Nad?" tanya Daniel.

"Pada acara lamaran seperti ini 'kan harus dihadiri oleh kedua orangtua kita, Dan. Jadi, aku tak bisa menerima lamaranmu malam ini." Aku beranjak dari panggung, tetapi Daniel menghalangi lalu memegang tanganku.

"Jangan khawatir. Karena kedua orangtua kita sudah hadir di sini, Nad. Mereka juga sudah tahu rencana ini. Tanpa izin mereka, bagaimana mungkin aku bisa mengadakan acara ini."

Kedua orangtuaku  menghampiri dan memelukku tanda bahagia begitu juga dengan orangtua Daniel.
Daniel sungguh lelaki idamanku. Walaupun usianya sudah divonis tidak akan bertahan lama, namun aku yakin bahwa Tuhan menolong dan pasti punya rencana yang indah dalam hubungan kami.

Hidup bersama dengan orang yang kita cintai sangat berharga sekalipun tidaklah lama, daripada tidak memiliki kenangan sama sekali, itu artinya menyia-nyiakan waktu yang ada.


Nisut, 25 Juli 2022

Posting Komentar untuk "Surat Undangan Tanpa Nama "