Malaikat Tak Bersayap, Nyawa sekalipun Ia Pertaruhkan
Cerpen Singkat Bermakna
Tiada hari tiada malam, tiada kata seindah doa dari seorang ibu. Bagi yang sayang pada Ibunda, katakan AKU SAYANG IBU.
Becimen. Hari ini aku meraih gelar sarjana lulusan terbaik Indonesia.
"Senandika Putri, mendapatkan nilai terbaik. Kami minta kepada hadirin untuk memberikan applause buat Senandika Putri. Karena dia termasuk sosok generasi yang akan memajukan negara kita kelak."
Gemuruh tepuk tangan menggema di ruangan itu.
"Kami minta kesediaan Senandika Putri maju ke depan untuk menerima piagam dari hasil kerja keras selama ini."
Namun, apakah aku merasa senang dan bahagia dengan apa yang kudapatkan saat ini? Tidak! Tidak sama sekali. Aku tidak butuh piagam ini, aku tak butuh pujian ini. Adakah kalian merasakan sesak yang sedang aku rasakan saat ini? Aku butuh sosok ibu yang mendampingiku di hari-hari seperti ini.
***
Empat tahun yang lalu ....
Aku membuka mata dari tidur panjangku—koma. Aneh. Walau penglihatan masih belum jelas, tetapi aku mampu membedakan bahwa ini bukanlah kamarku. Oh, ternyata ini ruangan VVIP.
Sebuah benda yang menutupi mulut hingga hidungku, oh, ini adalah saluran oksigen. Kepalaku masih terasa pening. Aku bisa melihat sosok lelaki separuh baya datang menghampiri.
"Syukurlah. Akhirnya kamu sadar setelah dua minggu berlalu," kata lelaki itu.
"Anda siapa?" tanyaku.
"Aku adalah ayahmu. Sekarang kamu istirahat, ya. Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bergerak. Bahaya buat ginjalmu."
Ayah? Sejak kapan aku punya ayah? Tidak. Aku tidak punya ayah. Lelaki itu sudah mati. Sekalipun dia benar ayahku, aku tidak terima. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menelantarkan anak dan isterinya menderita tanpa bantuan sedikitpun.
"Ayah? Apakah anda tidak salah orang? Aku tidak punya ayah. Aku hanya punya ibuku. Di mana ibuku?"
Pria yang berada di samping tempat aku terbaring terdiam lesu.
"Jawab! Di mana ibuku? Jika anda macam-macam terhadap ibuku, aku tidak segan-segan buat perhitungan pada anda!"
"Nak, tenang. Ayah bisa menjelaskan semuanya. Ibumu baik-baik saja. Hanya saja, untuk saat ini dia tak bisa menemuimu karena dia sedang berjuang demi keselamatanmu."
Butiran bening mulai mengalir membasahi pipiku tanpa izin. Ibu, mengapa Ibu tega tak menyukai di saat aku sadar? Mengapa Ibu masih bekerja di luar sana di saat aku sakit? Nanti kalo ibu sakit, siapa yang jagain ibu? Tahukah siapa yang membangunkan aku dalam tidurku? Itu Ibu. Ibu membangunkanku dengan tangisanmu. Ibu kemana?
***
Setelah kondisiku sudah membaik, saya meminta pada dokter untuk melakukan perawatan di rumah saja, alhasil dokter mengizinkanku. Lalu lelaki yang mengaku dirinya sebagai ayahku mengajak untuk pulang ke rumahnya. Awalnya aku tidak mau. Namun, setelah mendengar bahwa Ibu ada di sana, aku dengan ringan langkah mengikutinya.
Malam berteman sepi, sosok yang kunanti masih tak kunjung hadir. Luasnya kamar ini, tak sebanding dengan tempatku bersama Ibu, tidaklah mampu menghiasi hati yang sedang risau. Mengapa Ibu masih belum pulang? Ini, kan sudah malam.
Aku keluar dari kamar menuju ruang tamu. Lelaki yang mengaku sebagai ayah itu sedang duduk di sofa membelakangiku. Dalam genggamannya terdapat sebuah album foto yang sangat familiar. Tiba-tiba suara isakkannya mulai terdengar. Aku pun bergegas menghampiri.
"A ... ayah, mengapa nangis?" tanyaku dengan lidah kaku saat menyebut lelaki itu dengan panggilan Ayah.
Ia langsung memelukku. Aku pun membiarkannya menumpahkan tangisan di pelukan.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah bukanlah ayah yang baik. Ayah sudah membuat kalian menderita."
"Ayah, sudah. Jangan menangis. Kalo nanti ibu pulang, pasti dia memarahi Ayah. Aku gitu sama Ibu, dia tidak memperbolehkanku menangis sendirian. Hanya dalam pelukannya aku bisa menangis."
"Nak, cepat atau lambat kamu pasti akan tahu apa yang terjadi." Ayah melepaskan pelukannya.
"Mungkin, inilah saatnya kamu harus tahu. Ibumu sekarang sudah tiada. Ginjal yang saat ini kamu miliki adalah kepunyaan ibumu. Awalnya, Ayah yang mendonorkannya untukmu, tetapi tak cocok. Ayah juga mencari pendonor di luar sana tetapi tidak ketemu. Akhirnya, ibumu memeriksa ginjalnya. Alhasil, setelah diperiksa hasilnya cocok. Ayah awalnya tak mengizinkan. Tapi ibumu sangat keras hati dan akhirnya ginjal diberikan kepadamu." Ayah menghela napas panjang.
Aku diam mematung bagai tersambar petir.
"Operasinya berjalan dengan baik. Ibumu pun sadar dan sempat menuliskan surat untukmu. Setelah satu minggu pasca operasi, kamu juga masih belum sadar dari koma. Tiba-tiba ibumu mengalami serangan jantung. Dokter telah memberikan penanganan yang terbaik, tetapi Allah berkehendak lain. Ia mengambil ibumu dan menempatkannya di sisi-Nya," jelas Ayah.
Aku terpukul keras. Suara tangis pecah malam itu. Tangisan yang kujaga selama ini tanpa ibu, akhirnya keluar tanpa terkendali.
"Tidak mungkin! Ibu tidak mungkin meninggalkanku. Ibuuu!"
"Itulah kenyataannya, Nak," Ayah kembali memelukku.
"Mari kita hargai perjuangan ibumu dengan mengikhlaskannya. Ibumu pasti tidak senang di alam sana jika mengetahui kamu menangis.Apakah kamu mau ibumu bersedih?"
"Tidak , Yah. Aku tidak mau ibu bersedih," jawabku sembari mengusap air mata. Walau tangisku tak bersuara, tetapi butiran hangat masih tetap setia menemani. Setidaknya ibu tidak mendengar suara tangisku.
"Ini titipan dari ibumu." Ayah memberikan sebuah kotak kecil yang dititip Ibu untukku.
Perlahan, kubuka kotak kecil yang terbungkus rapi itu. Didalamnya, terdapat sebuah foto saat aku masih kecil dan sedang digendong oleh seseorang yang tak asing. Sepucuk surat berpita biru juga terdapat dalam kotak tersebut.
Sena, sayang. Jika saat bangun nanti, Ibu harap Sena menerima kehadiran sosok ayah yang menemanimu saat ini. Ayah itu orangnya baik. Ibu sengaja tidak bercerita tentang Ayah selama ini, Ibu kira Ayah sudah menikah setelah ibu meninggalkannya. Ibu berpisah dengan Ayah dulu bukan karena Ayah tidak sayang kita, tapi karena nenek dari ayahmu tidak menyukai kehadiran Ibu di keluarganya. Lalu mencari-cari cara untuk mencelakakan Ibu sewaktu mengandung kamu. Karena berkat Tuhan, akhirnya kamu lahir dengan selamat.
Saat usiamu satu tahun, nenekmu hendak mencelakakan kamu dengan mencampurkan obat berbahaya ke dalam makananmu. Namun, Tuhan lagi-lagi tidak mengizinkannya. Akhirnya, ibu mengambil keputusan dengan pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayahmu. Maafkan Ibu telah menjauhkan kamu dari ayahmu selama ini. Ibu harap, kamu menjadi wanita sukses kelak. Maafkan Ibu jika nanti saat Sena membuka mata, Ibu sudah tiada. Jangan menangis setelah tahu kepergian Ibu. Jadilah wanita yang kuat!
***
Sepulang dari acara wisuda. Aku mulai menumpahkan segala rasa pada Ibu di selembar kertas.
Dear, Ibundaku
Ibu, hari ini Sena membawa kabar baik buat Ibu. Hari ini Sena dapat gelar sarjana lulusan terbaik Indonesia. Ibu bahagiakah? Banggalah? Oh, tidak. Aku masih belum bisa jadi anak kebanggaan Ibu. Aku belum bisa menerima kenyataan bahwa Ibu sudah tiada, karena Sena sangat sayang pada Ibu. Bu, Sena janji akan memaafkan dan menyayangi ayah sesuai permintaan ibu.
Aku sangat merindukan Ibu.
Aku membungkus surat itu dengan pita biru, karena warna biru adalah warna kesukaan kami. Lalu aku menaruhnya tepat di samping nisan.
Nias Utara, 14 Agustus 2020
Kasih seorang Ibu adalah luar biasa, nyawanya sekalipun dia pertaruhkan. Tak seorang pun mampu menggantikan posisinya di hatiku. I love you, Mom
Cerita ini pernah dibukukan dalam sebuah antologi cerpen, dengan berjudul Sepucuk Surat Berpita Biru.
Posting Komentar untuk "Malaikat Tak Bersayap, Nyawa sekalipun Ia Pertaruhkan"
Disclaimer: Semua isi konten baik, teks, gambar dan vidio adalah tanggung jawab author sepenuhnya dan jika ada pihak-pihak yang merasa keberatan/dirugikan silahkan hubungi admin pada disclaimer untuk kami hapus.