Kisah Asmara Vania di Pulau Bali, Yuk Kepoin!
Cerita Pendek Romantis Terbaru
Becimen – Pagi cerah mengintari pantai Dreamland Beach di Bali. Suasana pantai sangat ramai. Walau berkali-kali liburan gagal karena PPKM sebab covid, tetapi tak mengurangi keindahan pantai ini.
Kurang lebih aku berjemur di pinggir pantai sekitar sepuluh menit dan masih menikmati angin yang memanjakan kulit. Aku mulai menyusuri pantai tanpa alas kaki.
Sepanjang menyusuri pantai, aku merasa ada orang yang mengusik kedamaian hati. Entahlah, dia berada tidak jauh dari tempatku sedang mengenakan kacamata berwarna cokelat. Mungkinkah dia seorang penguntit? Entahlah.
"Vania?!" panggil cowok berlesung pipi sembari menghampiriku dengan suara lantang. Tangannya tak lupa melepaskan kacamata hitam yang dikenakannya.
Mataku seketika melongo saat mendengar namaku dipanggil. Wajahnya sudah tak terhalang oleh apa-apa lagi, sungguh cakep! Ini cowok seorang aktor Korea, bukan, sih? Ada mirip-mirip Lee Min Ho. Tampang keren, hidung mancung, pakaiannya terlihat casual tetapi bau wanginya sangat menarik. Jujur, tipe cowok idolaku banget. Tapi, mengapa dia mengenal namaku, ya?
"Elo siapa?" tanyaku balik, tak lupa mata menyipit guna menginterogasi sosok aktor di hadapanku saat ini.
"Elo benar Vania, kan?"
"Iya. Napa lo bisa tahu nama gue?"
"Yah, awalnya gue memang nggak kenal Lo. Tapi, tanda lahir lo begitu familiar banget. Ternyata, feeling gue benar."
Tanganku meraba bagian daun telingaku, ternyata rambutku sudah terikat sedari tadi. Wajar saja orang-orang di sekitarku terus memperhatikanku. Akh, tanda ini bikin gue nggak pd-an saja! Segera aku melepaskan ikatan rambutku, lalu membiarkan tergerai menutupi tahi lalatku yang hampir menutupi seluruh daun telingaku.
"Masa, sih, lo nggak kenal gue. Sombong banget. Elo lupa sama ketua geng stupied yang dulu jahilin lo?"
Satu demi satu lembaran lama kembali mengguyur di benakku. Sekelompok anak-anak geng menyuruhku untuk mendatangi gudang yang terletak di belakang sekolah. Siapa yang tak takut sama perintah yang tak lain adalah suruhan ketua mereka—Gio Pratama, anak ketua yayasan di sekolahku. Anak-anak yang lain saja pada kapok padanya, apalagi aku anak pindahan beberapa bulan lalu. Mampus! Mau tak mau, aku menurutinya.
"Selamat datang, Vania Clarestiani," ucap cowok berambut keriting gondrong yang tak lain adalah ketua geng stupied itu—Gio.
Entah punya keberanian dari mana, kakiku seakan tak ragu untuk melangkah tanpa henti menatapnya dengan darah berporak-poranda. Gue nggak akan membiarkan lo terus-terusan membully anak-anak sekolah ini. Mentang-mentang lo anak kaya!
"Berani sekali lo natap gue seperti itu." Gio mendekatiku lalu meraih daun telingaku. "Asal lo tahu, hari ini lo akan kehilangan kuping lo. Karena gue ingin tahu, apa isi tanda lahir lo ini. Mengapa bisa merah seperti itu? Apa mungkin lo kelebihan darah? Hahahaha," tawanya menggema dalam gudang itu.
Dia melepaskan cengkeraman tangannya pada telingaku lalu mulai sibuk dengan besi-besi yang ada di meja. Sedikit rasa takut namun tampang terlihat berani.
"Gio, masih belom puaskah lo jahilin anak-anak lain, apakah dengan lo menjalankan misi lo saat ini, lo akan berhenti melakukan hal gila ini?!" Aku melihat Gio tidak sedang main-main dengan ucapannya.
Gio membalikkan badannya lalu mendekatiku. Sorot matanya begitu tajam bagai singa yang siap memangsa. Gue harus bagaimana?
"Lo siapa ngatur-ngatur gue. Hah! Ini hidup gue bukan urusan lo. Dari pada lo ngoceh, mending lo siap-siap aja jadi bahan eksperimen gue."
Entah punya kekuatan dari keturunan, aku bisa melihat dan menilai kepribadian seseorang dengan cara menatap matanya. Di dalam mata Gio sepertinya ada kegelapan yang menutupi mata hatinya. Entahlah. Sepertinya menginginkan cahaya cinta. Mungkinkah dia sedang patah hati atau dikhianati, sehingga melampiaskan amarahnya terhadap yang lain.
"Gio, apakah dengan menyakiti banyak orang, lo akan merasakan cinta dan perhatian? Tidak. Lo akan dibenci bahkan sangat dibenci banyak orang." Aku sudah tak peduli dengan wajah Gio yang sudah semerah saga.
Jujur, sebelum aku pindah di sekolah Bunga Mawar ini, hatiku sudah direnggut oleh sosok lelaki gondrong tak lain adalah Gio Pratama. Cerita berawal saat aku terhalang hujan di halte bus, Sosok Gio memberiku payung dan membiarkan tubuhnya terguyur hujan. Sejak saat itu, sungguh aku tak bisa melupakan wajahnya yang akhirnya dipertemukan dalam satu sekolah.
"Gue tahu, sebenarnya lo itu anak yang baik. Asal lo tahu, di luar sana banyak orang yang ingin menjadi lo. Lo tahu kenapa? Karena lo bisa sekolah tanpa memikirkan biaya sekolah, dan hanya fokus untuk belajar." Aku melihat Gio mulai mengernyit. "Lo tahu, gue sekolah itu butuh perjuangan, andai saja gue nggak dapat beasiswa dan tak mempertahankan nilai gue, mungkin saja gue nggak pernah pake baju seragam ini." Entah mengapa, mataku seketika mengeluarkan cairan bening dengan sendu. Aku teringat pada mamaku yang sedang sakit namun terus mendukungku untuk sekolah. "Seharusnya lo itu sadar, lo menghambur-hamburkan uang orang tua lo hanya untuk menyakiti orang lain. Please, pergunakan waktu yang ada, jangan lo sia-siakan."
"Stop!!!" raung Gio dengan nada tinggi, " ... stop, aku tak butuh omelan lo!" Gio mendorongku dengan keras hingga kepalaku terbentur di dinding dan terjatuh.
Dunia bagai telah terbalik, semuanya terlihat buram namun cukup membuatku pening karena benturan kerang yang mengenai kepalaku. Tetapi aku tahu jelas, bahwa Gio sedang menghampiriku, sungguh aku tak berdaya. Dia meraih tubuhku lalu meletakkan di meja dan berbisik, "ini masih tak seberapa."
Setelah mendengar bisikkan itu, aku bagai telah terbius lemah. Tak tahu apa yang akan terjadi. Setelah bangun aku tak melihat Gio ada di ruangan itu dan kepalaku masih terasa sakit barangkali karena benturan tadi.
***
Sebuah cubitan mengenai kedua pipiku membuatku tersadar dari lamunanku. "Aow, sakit," jeritku.
"Lo ingat gue, kan?"
"Jangan bilang kalo elo itu Gio, ketua berandalan brengsek itu." Dia sedikit mengangguk dan menggaruk kepalanya bagian belakang memberi isyarat.
"Untung saja otak lo masih berfungsi dan gue juga berharap kalo indra pendengaran lo masih aktif."
"Hah! Maksud lo apa?" Dengan tampang berani, tanganku menangkup kedua pipi cowok yang mengaku dirinya itu Gio. "Hahaha, tumben lo sekeren ini. Mana rambut gondrong lo dulu? Hahaha. Eh, tunggu-tunggu, kalo elo itu benar Gio mengapa muka lo nggak ada miripnya dengan yang dulu kek gangster."
Tanpa kusadari, bibirku mengundang tawa tanpa henti. Bagaimana mungkin cowok berandalan menjadi cowok macho seperti ini. Aneh! Apa jangan-jangan gue sedang dihipnotis biar gue bisa dibawa kabur?
"Vania. Ini aku Gio. Cowok yang udah pernah nyakitin plus jatuh hati ke lo!" Seketika aliran darahku memompa jantung begitu cepat. What?! Dia beneran beda banget. Sungguh, aku sudah lama merindukan suara Gio.
"Makasih, ya. Kalo saja saat itu lo nggak nantang serta nyadarkan gue dari sifat buruk gue, mungkin gue masih seperti berandalan di luar sana. Maafkan aku saat kejadian itu, sungguh di luar kendaliku."
Angin sepoi-sepoi mengibas-ngibas rambutku yang sudah tergerai. Aku masih tak percaya sosok cowok keren yang ada di depan mata. Bagaimana mungkin dia tahu keberadaan ku saat ini.
"Iya. Sama-sama. Btw, sejak kapan lo menyukai gue. Bukankah lo itu lebih suka bermain tawuran dari pada bermain cewek."
Gio meraih kedua tanganku, lalu segera menciuminya. Jujur, rasanya bagai sedang terbang di angkasa.
"Aku menyukaimu sudah lama. Pertemuan kita di halte bis adalah pertemuan kita yang kedua. Pertemuan pertama kita adalah saat lo ngebantu seorang wanita yang sakit jiwa di sebuah taman lalu membujuknya untuk pulang ke rumah. Kamu memang tidak mengenalku saat itu. Dan kamu tahu siapa wanita itu? Dia adalah ibuku." Gio sedikit menghela napa panjang. "
"Vania, maukah lo jadi pacar gue?"
Bagaimana bisa menolak pengakuan sang idola? Tentu saja aku menerimanya, karena sudah sejak lama aku ada rasa padanya.
"Iya, gue juga sayang sama lo. gue mau jadi pacar lo."
Gio meraih kedua tanganku dan mulai menciuminya lalu memelukku. Aku sangat bahagia, akhirnya aku bisa bersama Gio tanpa ada masalah lagi.
Suara badai yang berguling seakan ikut merasakan suasana hatiku saat ini, tambah lagi pemandangan sunset yang indah menjadi saksi bisu pada pengakuan cinta ini.
Nias, 09 Januari 2022
1 komentar untuk "Kisah Asmara Vania di Pulau Bali, Yuk Kepoin!"
Disclaimer: Semua isi konten baik, teks, gambar dan vidio adalah tanggung jawab author sepenuhnya dan jika ada pihak-pihak yang merasa keberatan/dirugikan silahkan hubungi admin pada disclaimer untuk kami hapus.