Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Balik Kata Cintamu Tersimpan Luka Yang Membara, Cerita Pendek Remaja

Cerpen-Di Balik Kata Cintamu Tersimpan Luka Yang Membara,  Cerita Pendek Remaja| Hati-hati Dengan Hati|Young Adult Romance

Berbicara tentang masa lalu, tentu ada banyak hal yang terlintas dibenak Anda, kan? Ada yang membuat tersenyum bahagia dan bahkan tertawa sendiri. Ada pula yang membuat pilu bahkan menangis setengah mati. Yang lebih parahnya lagi, ada yang mau mengakhiri hidupnya hanya karna ingatan masa lalu. Dan masih banyak lagi yang menjadi pembelajaran diri. Seperti apa, sih, masa lalu itu sampai bisa serumit itu? Yuk, kepoin!


By: Nidarzal 






Sebuah nama yang takkan bisa kulupakan.  Memiliki mata sipit bermanik hitam pekat,  rambut di atas bibirnya selalu tertata rapi alias berkumis tipis. Raunnya tirus memiliki gigi gingsul, sungguh tipe aku banget.

Seiring berjalannya waktu, masa magangnya telah usai. Tugas tetap dijalankannya sebagaimana instruksi dari dosennya. Mau tidak mau dia harus pergi. Jangan lupa untuk kembali, pesanku.

Aku mengenalnya kurang lebih tiga bulan. Dia mengajariku berbagai hal. Memasak, menggambar, menasehati untuk tetap bersyukur dalam segala hal, serta mengajariku bermain musik. Karena selain dia ahli dibidang arsitek, dia juga seorang pianis. Mungkin karena itulah aku tak bisa melupakannya.

"Koki jelek." Itulah panggilanku olehnya—Kim Soo-Hyun, sementara namaku Tina Prillia. Berdandan biasa saja banyak yang naksir, apalagi kalo dandan? Huh! Matanya itu perlu disetel. Sabar! Beruntung saja ada kipas angin yang menemani suasana ini, kalo tidak, darahku sudah memanas sedari tadi. "Kalo masak itu jangan pedas-pedas. Coba rasakan, selain pedas, ini asin banget!" protesnya, sembari mengulurkan lidahnya dan meminum air beberapa gelas.

"Kamu mesti banyak belajar sebelum kau merried. Apa kata suami dan mertuamu nanti bila kau masih seperti ini." Darahku seketika mendidih. Ini makhluk satu punya urusan apa suka nasehati orang lain. Gila. Akh, ini 'kan masih tahap belajar!

Kim Soo-Hyun, anak teman ibuku. Dia lelaki berdarah Korea-Indonesia. Ibunya seorang cheff terkenal di kota Jakarta. Sedang ayahnya seorang CEO di perusahaan besar di Korea. Dia mengikuti ibunya dan kuliah di Jakarta. Saat ini, dia tengah magang di salah satu perusahan dekat rumahku—Bandung, sepengetahuan ibuku.

"Aku cuma kasih cabainya sedikit, kok. Begitu juga dengan garamnya. Tapi entah kenapa bisa seperti ini rasanya," jawabku kesal. Bukannya dihargain malah protes. Masih untung aku memasak kayak beginian!

Selama Kim Soo-Hyun tinggal di rumahku, mulai saat itulah aku belajar memasak meski ala-ala Tina super-duper rasa. Jujur, sebelumnya aku tak pernah memasak, karena mama dan papaku selalu melarangku melakukannya. Tapi, entah mengapa saat itu mama dan papaku mengizinkanku memasak bersamanya. Ah, dapat lampu hijau. 

"Kalo hanya sedikit, mengapa rasanya seperti ini? Dasar gadis aneh dan bodoh!"

Srekk!!! 
Sebuah pukulan keras mengenai jantungku. Gadis aneh? Bodoh? Enak saja mulutnya enteng berkata begitu. Sebegitu rendahnya kah diriku di matanya? Jujur, aku tak terima dengan kata itu.

Gigiku mengeram keras, bagai tentara yang siap tempur. Emosiku meluap.

"Eh, kalo kau tak suka, mending kau cari saja tempat yang menyenangkan dan yang mau menampung ucapan-ucapan kasarmu itu! Maaf, di sini kami tak mau menampung orang yang tak tahu berterima kasih!"Jariku menunjuk mukanya. Masih untung tak kasih air panas di mukamu biar tahu rasa. "Aku tahu, kau berasal dari keluarga yang terpandang, tapi bukan berarti kau seenaknya saja merendahkan orang lain. Hargailah sedikit kerja keras orang lain!" 

"Koki jelek. Jangan marah, kenapa? Maaf, bila itu membuatmu tersinggung," sontak tangannya mengisyaratkanku untuk memaafkannya serta mata yang merunduk dan bibirnya menyembul. Gila. Mengapa dia begitu gemas sih? Ah, jika begini, bagaimana aku bisa memarahinya?

"Plis, maafkan aku. Aku janji takkan mengataimu gadis aneh dan bodoh lagi, kamu gadis manis layak masakanmu. Enak." What?! Masakanku ternyata enak? "Tadi aku bercanda." 

Bibirnya mengumbar tawa, membuatku semakin mendengus kesal. Dia memang suka bikin kesal, tapi gemesin. Tanpa izinku, pipi seketika panas dan memerah. Entahlah.

Kuusap wajahku yang kian memerah dan menghempas napas kesal. Gila. Ternyata aku kena prank nya. Yah, aku memang belum ngecap karna takut lidahku terbakar akan panasnya masakan.

"Makanya, punya lidah itu dipake untuk ngecap. Di gituin saja udah nyeblos aja tuh bibir." Tangannya berhasil menangkup kedua pipiku. Matanya menatapku punya maksud. Ah, benar saja. Dia mengecup bibirku.

Dag ... deg ... dug ....
Suara degupan jantungku berdebar kencang. Hampir saja mau copot. Bodoh. Kalau begini, bagaimana aku bisa marah? Entah, aku merasa nyaman dan tenang berada di dekatnya. Sepertinya aku telah jatuh hati padanya, setelah sekian lama hati ini tertutup pada makhluk jantan penghuni bumi. 

"Aku ingin kau hanya menjadi milikku," ucapnya kembali mengulum bibirku dengan rakus. Lalu meraih tanganku meninggalkan dapur menuju ruangan kosong.

Entah mengapa, aku tak memberontak atau menolak pada ajakkannya itu. Mungkin saja karena rasa yang bergejolak ini yang tak bisa aku kendalikan.

***

Dua bulan kemudian ....
Semerbak bunga mekar di halaman rumahku. Bunga yang kutanam selepas kepergian Kim Soo-Hyun, kini tumbuh dengan baik dan berkembang. Berharap, Kim Soo-Hyun juga merawat hatinya buatku. 

Tuttt ... tuttt ....
Sebuah pesan masuk pada benda pipih milikku, menyadarkan pikiranku yang telah kosong. Hatiku sangat bahagia mendapatkan pesan singkat itu, tak lain dari Kim Soo-Hyun.

"Happy birthday, Tina Prillia. Wish you all the best."

Bagiku, ucapan itu lebih dari hadiah yang diberikan ibu padaku—tiket liburan di Kanada. Ah, dia masih mengingat tanggal lahirku. Padahal, aku sendiri lupa dengan tanggal lahirku. Terima kasih, Oppa. I Miss you.

Jariku dengan cepat memencet ikon video calling. Berharap, dia segera mengangkatnya. Alhasil, tersambungkan.

Mataku membulat melihat pemandangan yang tak pernah kuharapkan.

"Hai, Tina. Selamat ulang tahun, ya," ucap Meysel—sahabatku, sembari melambaikan tangan di seberang sana dan mengurai senyum tanpa dosa. Saat ini dia bersama dengan Kim Soo-Hyun di dalam mobil. Entah kemana. Apa jangan-jangan Meysel nikung?

"Iyah. Makasih, Meysel," jawabku tanpa memperlihatkan kekhawatiranku. Semoga saja tidak seperti yang aku khawatirkan.

"Maaf, handphoneku udah rusak semalam, makanya aku ngucapnya telat, ini pun pakai ponselnya Kim Oppa." Oppa? Sejak kapan Meysel tertarik dengan kata Oppa. Setahuku, dia tak pernah tertarik dengan ala-ala Korea. Jangan bilang kalau Meysel dan Kim Soo-Hyun berpacaran. Tidak!

Aku terdiam. Ada rasa cemburu menyeruak di rongga dada ini. Cemburu bercampur kesal. Ternyata, bukan dia yang mengirim pesan selamat ulang tahun ini padaku. Jahat. 

"Maaf, aku nggak pernah cerita padamu tentang hubunganku dengan Kim Soo-Hyun. Aku dan dia sudah bertunangan sejak kecil. Semoga Tina juga cepat dapat nyusul, ya." 

Aku bagai tersambar petir pagi ini. Badanku gemetar kuat tak percaya mendengar ucapan Meysel. Kim Soo-Hyun tak pernah juga bercerita tentang hal ini. Tidak mungkin! Jadi, Kau anggap aku selama ini apa, Oppa?! Sebagai eksperimen saja?! Gila.

Aku mendekap kedua lututku, sembari menitikkan air mata, mengingat semua kisah yang telah kami lewati bersama membuatku merasa sesak. Mengapa dulu datang bila hanya memberi luka? Apakah takdirku hanya untuk merasakan luka lara? Atau apakah aku tak pantas mendapatkan cinta yang setia? Aku bodoh, terlalu mempercayai semua lelaki! Tak menyangka akhir dari cintaku adalah hanya khayalanku belaka. 

***

Sebuah cahaya putih dengan frontal menyilau penglihatanku. Entah itu apa. Lalu, dengan tenang cahaya itu membawaku ke sebuah taman yang penuh bunga yang sangat indah. Aku tak pernah melihat bunga seluas dan seindah ini sebelumnya. 

Wajahku menengadah sembari tangan membentang. Rambutku yang tergerai lurus menari-nari, menikmati udara serta pemandangan yang indah ini. Sungguh, aku sangat bahagia. Di sini aku menemukan senyumanku yang sudah lama menghilang. 

Selamat tinggal dunia fana. Dunia yang penuh cinta kepalsuan. Kini, aku sangat bahagia merasakan keindahan alam yang luar biasa indah di taman surga. 


Tamat .... 



Nias, 16 Juni 2021

3 komentar untuk "Di Balik Kata Cintamu Tersimpan Luka Yang Membara, Cerita Pendek Remaja"

Unknown 29 Juli 2021 pukul 05.53 Hapus Komentar
Sedih bet. Memang tak semua kata2 dapat dipercayai. Tapi, bagaimana juga kita bisa mengetahui bahwa omongan itu palsu? Huhhh
Unknown 1 September 2021 pukul 22.03 Hapus Komentar
Lelaki dekat saat ada maunya. Tak semua lelaki juga sih
Unknown 9 September 2021 pukul 01.16 Hapus Komentar
Semoga bahagia di alam sana